Tools · Persiapan interview
18 pertanyaan klasik interview analis — dari DCF sampai Beneish M-score. Tiap jawaban ditulis matang 3–5 kalimat: cara berpikir analis, bukan hafalan definisi. Klik untuk membuka. Latih dengan suara keras, bukan di kepala.
Saya proyeksikan FCFF 5–10 tahun dari driver — pertumbuhan penjualan, margin, modal kerja, capex — bukan sekadar ekstrapolasi persen. Lalu saya diskontokan dengan WACC dan tambah terminal value, biasanya via Gordon growth dengan g di bawah pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Hasilnya enterprise value, jadi saya kurangkan net debt untuk dapat nilai ekuitas, lalu bagi saham beredar.
Yang paling penting bukan presisinya — DCF itu mesin asumsi — melainkan uji sensitivitas: asumsi mana yang paling menggerakkan nilai, dan apakah asumsi itu masuk akal dibanding sejarah perusahaan.
FCFF adalah kas bebas untuk semua penyandang dana — dihitung sebelum bunga: CFO + bunga(1−pajak) − capex. FCFE adalah kas bebas untuk pemegang saham — setelah bunga dan pergerakan utang: FCFF − bunga(1−pajak) + utang neto.
Karena itu valuasi perusahaan (enterprise value) memakai FCFF yang didiskonto dengan WACC, sedangkan valuasi ekuitas langsung memakai FCFE dengan cost of equity. Kesalahan klasik: memakai FCFE tapi mendiskonto dengan WACC — mencampuradukkan klaim.
P/E cocok untuk perusahaan profitable dengan struktur modal mirip peer — sederhana dan intuitif, tapi rapuh: E bisa negatif, mengandung one-off, dan terdistorsi beda leverage serta beda framework akuntansi. EV/EBITDA saya pakai saat leverage antar peer berbeda jauh atau kebijakan depresiasinya beda — karena EV menangkap total klaim dan EBITDA netral terhadap struktur modal.
Aturannya: P/E untuk perbandingan cepat yang "bersih", EV/EBITDA untuk perbandingan yang adil. Keduanya wajib dihitung dari continuing earnings, bukan headline.
M-score adalah model probabilitas manipulasi laba dari 8 rasio — DSRI, GMI, AQI, SGI, DEPI, SGAI, LVGI, TATA — dengan batas klasifikasi sekitar −1,78; di atas itu perusahaan di-flag. Intuisinya: manipulator meninggalkan pola — piutang tumbuh lebih cepat dari penjualan, margin memburuk, akrual membengkak.
Saya memakainya sebagai screening, bukan vonis: M-score yang buruk berarti "baca catatan lebih dalam", terutama umur piutang, kebijakan kapitalisasi, dan transaksi pihak berelasi.
Saya mulai dari gap laba vs CFO: laba yang tidak menjadi kas bertahun-tahun adalah alarm pertama. Lalu saya ukur akrual (NI − CFO dibagi aset) dan trennya, plus DSO — piutang yang tumbuh jauh lebih cepat dari penjualan hampir selalu berarti pengakuan prematur atau penjualan fiktif.
Langkah ketiga: pisahkan one-off dari continuing earnings, karena multiple dan tren yang dihitung dari headline akan menipu. Kualitas laba = seberapa besar laba yang berulang, menjadi kas, dan tidak bergantung pada judgment agresif.
Laba bersih mengalir ke laba ditahan di ekuitas (dikurangi dividen); perubahan akun-akun neraca menjelaskan arus kas; dan saldo kas akhir harus sama dengan kas di neraca. Tiga laporan ini satu sistem tertutup — tiap transaksi menyentuh minimal dua titik.
Ini skill mekanik paling berguna analis: kalau bisa memprediksi efek satu transaksi ke tiga laporan, kamu bisa mengaudit model apa pun dan menemukan di mana artikulasi patah — dan patahan artikulasi seringkali adalah tempat fraud bersembunyi.
PSAK 109 memakai expected credit loss bertahap: Stage 1 (risiko kredit belum naik signifikan) cukup cadangan ECL 12 bulan; Stage 2 (naik signifikan) wajib lifetime ECL; Stage 3 (gagal bayar) lifetime ECL plus bunga diakui atas nilai neto.
Dua implikasi analis: pertama, allowance bank Indonesia vs bank US (CECL yang langsung lifetime) tidak comparable; kedua, keputusan staging adalah judgment manajemen — migrasi antar stage menggerakkan laba, jadi saya selalu baca pergerakan stage-nya, bukan cuma angka cadangannya.
PSAK 116/IFRS 16 punya satu model lessee: semua sewa on-balance-sheet dengan beban front-loaded (depresiasi garis lurus + bunga menurun). US GAAP mempertahankan split operating vs finance lease: operating lease membebankan satu angka garis lurus di beban operasi.
Akibatnya laba operasi tahun-tahun awal lebih tinggi di PSAK/IFRS, sementara total kas dan total beban selama masa sewa identik. Analis yang membandingkan margin operasi lintas framework tanpa normalisasi sedang membandingkan apel dengan jeruk.
Karena laba itu akrual: penjualan kredit diakui sebelum kas masuk, beban non-kas seperti depresiasi mengurangi laba tanpa menyentuh kas, dan perubahan modal kerja (piutang, persediaan, utang) menggeser timing kas. CFO = laba bersih + non-kas ± perubahan modal kerja.
Gap yang melebar persisten hampir selalu berarti pertumbuhan dibiayai piutang — kualitas laba memburuk. Pengecualian yang sehat: perusahaan bertumbuh cepat memang menyedot modal kerja, jadi saya cek apakah gap-nya proporsional dengan pertumbuhan.
WACC adalah biaya modal rata-rata tertimbang: (E/V × cost of equity) + (D/V × cost of debt × (1−pajak)). Cost of equity biasanya dari CAPM — risk-free + beta × equity risk premium — dan bobotnya memakai nilai pasar, bukan nilai buku.
Dua jebakan: memakai beta historis mentah tanpa mempertimbangkan perubahan leverage, dan memakai struktur modal buku yang jauh dari target. WACC yang salah 2% bisa menggeser nilai DCF 20–30%, jadi saya selalu tunjukkan sensitivitasnya.
Terminal value menangkap nilai seluruh arus kas setelah periode proyeksi eksplisit — biasanya 60–80% dari nilai DCF. Metode standar: Gordon growth FCFF×(1+g)/(WACC−g), atau exit multiple.
Jebakannya: g yang melebihi pertumbuhan ekonomi jangka panjang berarti perusahaan tumbuh mengalahkan PDB selamanya — tidak masuk akal. Saya selalu cek berapa persen nilai datang dari terminal value; kalau 85%, maka "DCF" saya sebenarnya cuma tebakan g.
Saya tidak memproyeksikan nominalnya — saya proyeksikan hari: DSO, DIO, DPO dari tren historis dan benchmark industri, lalu turunkan piutang, persediaan, dan utang usaha dari penjualan/HPP forecast. Perubahan modal kerja = selisih tahun berjalan minus tahun lalu, dan masuk ke jembatan laba → CFO.
Asumsi hari yang membaik tanpa alasan operasional adalah cara halus menggelembungkan valuasi, jadi tiap perbaikan hari harus punya narasi: sistem penagihan baru, renegosiasi supplier, atau memang tidak saya izinkan membaik.
Piutang vs penjualan: DSO yang melar tajam tanpa perubahan model bisnis adalah red flag nomor satu — penjualan fiktif selalu meninggalkan piutang yang tidak tertagih. Kedua, CFO vs laba yang divergen persisten. Ketiga, pihak berelasi di catatan: transaksi non-arm's-length adalah saluran klasik pengalihan nilai.
Lalu saya cek audit trail-nya: pergantian auditor, opini modifikasian, dan KAM (key audit matters) — KAM memberi tahu di mana area estimasi paling berisiko menurut auditornya sendiri.
Z-score memprediksi risiko kebangkrutan dari 5 rasio: modal kerja/aset, laba ditahan/aset, EBIT/aset, nilai pasar ekuitas/liabilitas, dan penjualan/aset — dengan zona aman di atas 2,99, distress di bawah 1,81, dan grey zone di antaranya.
Keterbatasannya: dikalibrasi untuk manufaktur US era 1960-an, jadi saya tidak memakainya mentah untuk bank atau startup. Nilainya sebagai tripwire: perusahaan yang masuk grey zone wajib saya bedah likuiditas dan jadwal jatuh utangnya.
P/B paling relevan untuk bisnis padat aset tercatat wajar — bank, asuransi, properti — di mana nilai buku mendekati nilai likuidasi atau modal yang benar-benar ditanam. Ia tidak berguna untuk perusahaan jasa/tekno yang aset terbesarnya (SDM, brand) tidak tercatat di neraca.
Dua penyesuaian wajib: keluarkan aset takberwujud & goodwill bila ingin tangible book, dan waspadai revaluasi (PSAK 216) yang menaikkan nilai buku tanpa perubahan bisnis — P/B yang "murah" bisa murni artefak akuntansi.
Pertama jenis opininya: wajar tanpa pengecualian vs modifikasian (pengecualian, tidak wajar, menolak memberi opini) — dan paragraf going concern bila ada, itu sinyal kredit langsung. Kedua, saya baca KAM: area yang menurut auditor paling butuh judgment adalah peta risiko saya.
Ketiga, pergantian auditor dan keterlambatan publikasi — keduanya prediktor masalah klasik. Opini bersih bukan jaminan tidak ada fraud, tapi opini kotor hampir selalu berarti ada yang disembunyikan.
Management-defined performance measures adalah angka "versi manajemen" seperti EBITDA disesuaikan — efektif 1 Januari 2027, PSAK 118/IFRS 18 mendisiplinkan MPM: wajib rekonsiliasi ke subtotal baku, wajib jelaskan tiap penyesuaian termasuk efek pajaknya, dan tidak boleh disajikan lebih menonjol dari ukuran standar.
Buat analis ini kabar baik: "laba disesuaikan" emiten akan lebih transparan. Tapi prinsipnya tetap — mulai dari angka baku, curigai penyesuaian yang recurring, karena restrukturisasi tiap tahun pada dasarnya beban biasa.
Saya lakukan triangulasi: DCF vs multiples peer vs (bila relevan) precedent transactions — tiga metode yang memberi jawaban mirip jauh lebih meyakinkan daripada satu model presisi. Lalu reverse-engineer: pertumbuhan dan margin implisit apa yang harus dipercaya pasar agar harga hari ini wajar? Kalau implisitnya menuntut keajaiban, valuasinya salah.
Terakhir, margin of safety: saya hanya peduli valuasi bila ada jarak cukup antara nilai dan harga untuk menampung kesalahan asumsi saya — karena asumsi saya pasti salah di suatu titik.