Healthcare · Guided Case (Eksperimen)

TSPC: tiga bisnis, satu laba yang melonjak.

Walkthrough terpandu LK auditan 2024 PT Tempo Scan Pacific Tbk. Revenue naik 4% — laba usaha naik 68%. Dua belas pemberhentian untuk menjawab: dari mana selisihnya?

🧪 Label eksperimen — baca dulu. Ini case guided kedua FSA Lab berpola SOCI (walkthrough, bukan blind): janji guided = semua angka benar, dikutip dari filing. Tugasmu bukan menebak angka — melainkan menghitung ulang, memetakan ke modul, dan menjawab pertanyaan analis di tiap stop.
Kotak jujur — baca dulu. Ini filing asli: Laporan Keuangan Konsolidasian auditan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2024 PT Tempo Scan Pacific Tbk (ticker: TSPC), diaudit oleh KAP Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang & Rekan (jaringan BDO), ditandatangani 24 Maret 2025. Semua angka di halaman ini dikutip dari LK tersebut (atau dihitung langsung darinya) — bukan angka ilustratif. Satuan: rupiah penuh (bukan ribuan — hati-hati membaca!). Yang tidak dilakukan: mengaudit ulang angka perusahaan atau memberi rekomendasi investasi. Kalau angka di sini beda dengan filing yang kamu unduh, percayai filing-nya — lalu kabari.

Identitas filing

EmitenPT Tempo Scan Pacific Tbk — farmasi, produk konsumen & kosmetik, jasa distribusi (Grup Tempo)
TickerTSPC
DokumenLaporan Keuangan Konsolidasian auditan FY2024 (dwibahasa Indonesia–Inggris)
AuditorKAP Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang & Rekan (BDO) — 24 Mar 2025
Mata uang & satuanRupiah penuh — "Disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain"
Segmen (Catatan 23)3 segmen: Farmasi · Produk Konsumen & Kosmetik · Jasa Distribusi

Peta jalan

12 pemberhentian. Setiap stop: narasi guided → 🧪 mini-lab → ✅ checkpoint. Mini-lab = hitung sendiri, cocokkan jawabannya. Checkpoint = pertanyaan analis, jawaban tersembunyi.

Legenda label tiap stop: 📄 Kutipanteks/angka persis dari LK auditan TSPC 2024 · 🧮 Hitungan FSA Labperhitungan kami dari angka-angka laporan · 🧭 Interpretasi analisopini & panduan membaca — bukan isi filing.
  1. Laba rugi headline — puzzle +4% vs +68%
  2. Tiga bisnis, tiga margin (segmen)
  3. Tuas iklan Rp1,54 triliun
  4. R&D 0,03% — jebakan yang tidak berbunyi
  5. Persediaan: barang jadi +21%
  6. Piutang & pihak berelasi — jebakan #3 diperiksa
  7. Operasi lain: swing Rp283,8 miliar
  8. Tempo Scan Industry: asosiasi → anak
  9. Konsentrasi pemasok: Nutricia Rp3,7 T
  10. Neraca benteng & arus kas
  11. Pajak: ETR 20,0%
  12. Sintesis tiga lensa
1

Laba rugi headline — puzzle +4% vs +68%

📍 Di filing: Ekshibit B, Laporan Laba Rugi Konsolidasian.

📄 KutipanPenjualan neto 13.654.570.829.747 (2023: 13.119.784.555.987) · laba bruto 5.177.515.424.584 · beban penjualan (2.783.982.283.097) · beban umum & administrasi (695.488.627.666) · laba usaha 1.808.850.676.042 (2023: 1.079.831.152.322) · laba neto 1.548.405.297.394 (2023: 1.250.247.953.060) · EPS 321 (2023: 261).
🧮 Hitungan FSA LabPertumbuhan penjualan +4,1% vs pertumbuhan laba usaha +67,5%. Margin operasi 2024 = 13,25% (2023: 8,23%) — ekspansi 5 poin dalam setahun.

M4M5M6🧭 Interpretasi analis Inilah "puzzle" case ini: revenue nyaris datar, laba meledak. Analis yang berhenti di headline akan menulis "kinerja cemerlang". Analis yang baik bertanya: komponen apa yang bergerak? Tiga tersangka sudah terlihat di tabel ini — beban penjualan (TURUN), operasi lain (berbalik positif), dan segmen (stop 2).

🧪 Mini-lab 1

Hitung sendiri: (a) margin operasi 2024 dan 2023; (b) margin neto 2024. Cocokkan dengan angka di atas.

Jawaban

(a) 1.808.850.676.042 ÷ 13.654.570.829.747 = 13,25%; 2023: 1.079.831.152.322 ÷ 13.119.784.555.987 = 8,23%. (b) 1.548.405.297.394 ÷ 13.654.570.829.747 = 11,34%.

✅ Checkpoint 1
Dari mana kira-kira 60%+ kenaikan laba usaha berasal, kalau revenue cuma +4%? (Tulis hipotesismu dulu, baru buka.)

Tiga kontributor yang akan kita bedah: penghematan iklan (stop 3), ayunan operasi lain (stop 7), dan pergeseran bauran segmen (stop 2). Catat hipotesismu — di stop 7 kita jumlahkan semuanya.

2

Tiga bisnis, tiga margin (segmen)

📍 Di filing: Catatan 23, Informasi Segmen Usaha.

📄 Kutipan2024 — penjualan eksternal: Farmasi 4.746.844.043.675 · Produk Konsumen & Kosmetik 4.556.377.350.868 · Jasa Distribusi 4.351.349.435.204. Laba bruto: Farmasi 2.341.720.889.236 · Konsumen 2.471.865.795.568 · Distribusi 363.928.739.780.
📄 Kutipan2023 — penjualan: Farmasi 4.062.125.916.709 · Konsumen 4.119.835.549.280 · Distribusi 4.937.823.089.998. Laba bruto 2023: Farmasi 1.848.654.572.723 · Konsumen 2.356.482.994.363 · Distribusi 498.146.942.126.
🧮 Hitungan FSA LabMargin bruto per segmen 2024: Farmasi 49,3% · Konsumen & Kosmetik 54,2% · Distribusi 8,4%. Pertumbuhan penjualan: Farmasi +16,9% · Konsumen +10,6% · Distribusi −11,9%. Distribusi = 32% revenue tapi cuma 7% laba bruto.

M8🧭 Interpretasi analis Ini "TSPC" yang sebenarnya: bukan satu perusahaan farmasi, melainkan tiga bisnis berbeda — dua pabrikan bermargin ~50% dan satu distributor bermargin 8%. Bauran bergeser menguntungkan di 2024: segmen margin-tinggi tumbuh, segmen margin-rendah menyusut. Geografis: domestik 13.195.064.347.913 (96,6%) — ini bisnis Indonesia.

🧪 Mini-lab 2

Hitung margin bruto ketiga segmen tahun 2024. Segmen mana kontributor terbesar kenaikan laba bruto konsolidasian (2024: 5.177,5 M vs 2023: 4.703,3 M)?

Jawaban

Farmasi: 2.341.720.889.236 ÷ 4.746.844.043.675 = 49,3%. Konsumen: 2.471.865.795.568 ÷ 4.556.377.350.868 = 54,2%. Distribusi: 363.928.739.780 ÷ 4.351.349.435.204 = 8,4%. Kenaikan laba bruto total = 474,2 M; Farmasi naik 493,1 M — farmasi sendiri menjelaskan >100% kenaikan (distribusi turun 134,2 M). Ini pertumbuhan yang "berkualitas" secara bauran.

✅ Checkpoint 2
Untuk valuasi, apakah TSPC layak dinilai dengan satu multiple? Kenapa?

Tidak. Sum-of-the-parts lebih jujur: pabrikan farmasi/konsumen (margin ~50%, multiple tinggi) vs distributor (margin 8%, multiple rendah). Satu multiple akan salah menghargai keduanya — pelajaran M8 + M24.

3

Tuas iklan Rp1,54 triliun

📍 Di filing: Catatan 26, Beban Usaha — Beban Penjualan.

📄 KutipanIklan dan promosi 2024: 1.537.733.890.480 (2023: 1.755.965.303.025). Total beban penjualan 2.783.982.283.097 (2023: 2.835.660.947.104); beban umum & administrasi 695.488.627.666 (2023: 614.786.172.123).
🧮 Hitungan FSA LabPenghematan iklan = Rp218,2 miliar (−12,4%). Intensitas iklan: 11,3% dari revenue (2023: 13,4%). Kenaikan laba usaha 2024 = Rp729,0 miliar → penghematan iklan menjelaskan 29,9%-nya.

M6M28🧭 Interpretasi analis Untuk consumer healthcare, iklan BUKAN beban administratif — ia adalah biaya akuisisi pelanggan yang berulang. Iklan = 55% dari seluruh beban penjualan. Memotong iklan 12% sambil revenue tumbuh 4% terlihat seperti efisiensi — tapi analis bertanya: apakah pertumbuhan 2025 dibayar dengan budget 2024? Catatan 9 menyebut "iklan dan promosi dibayar di muka" — sebagian budget 2024 mungkin hanya bergeser waktunya.

🧪 Mini-lab 3

Hitung: (a) intensitas iklan 2024 & 2023; (b) porsi penghematan iklan terhadap kenaikan laba usaha.

Jawaban

(a) 1.537.733.890.480 ÷ 13.654.570.829.747 = 11,26%; 2023: 1.755.965.303.025 ÷ 13.119.784.555.987 = 13,38%. (b) 218.231.412.545 ÷ 729.019.523.720 = 29,9% — hampir sepertiga "keajaiban" laba 2024 adalah iklan yang tidak dibelanjakan.

✅ Checkpoint 3
Manajemen mengklaim "efisiensi". Apa dua uji untuk membedakan efisiensi asli vs pengorbanan masa depan?

Uji 1 — pangsa pasar: kalau pangsa merek-merek TSPC (Bodrex, Hemaviton, Neo Hormoviton) bertahan/tumbuh dengan iklan lebih kecil = efisiensi asli. Uji 2 — 2025: kalau revenue 2025 melambat padahal iklan dinaikkan lagi = 2024 "meminjam" pertumbuhan. Keduanya di luar LK 2024 — analis mencatatnya sebagai pertanyaan terbuka, bukan vonis.

4

R&D 0,03% — jebakan yang tidak berbunyi

📍 Di filing: Catatan 26, baris "Penelitian dan pengembangan" (di beban penjualan).

📄 KutipanPenelitian dan pengembangan 2024: 4.644.797.903 (2023: 2.407.195.862). Seluruhnya di-expense — tidak ada aset takberwujud R&D yang dikapitalisasi untuk pengembangan internal di neraca.
🧮 Hitungan FSA LabIntensitas R&D = 0,034% dari revenue (4.644.797.903 ÷ 13.654.570.829.747). Naik 93% YoY — dari basis yang nyaris nol.

M12🧭 Interpretasi analis Jebakan #1 berbunyi? Tidak. Tidak ada kapitalisasi = tidak ada laba yang "dipermanis" hari ini dan amortisasi yang menghantui esok. Tapi angka 0,03% sendiri adalah informasi: TSPC bukan perusahaan penemu obat (drug discovery butuh 5–15% revenue untuk R&D). Modelnya = manufaktur + brand + distribusi. Pelajaran jebakan: kenali kapan sebuah jebakan relevan — R&D capitalization hanya berbahaya untuk emiten yang R&D-nya material. Di sini, memeriksanya dan menemukan nihil = hasil yang valid.

🧪 Mini-lab 4

Hitung R&D intensity. Jika sebuah emiten farmasi mengkapitalisasi R&D Rp500 M (bukan expense), apa dampaknya ke laba tahun berjalan dan ke aset? (Jawab konseptual.)

Jawaban

0,034%. Dampak kapitalisasi Rp500 M: laba tahun berjalan naik Rp500 M (beban pindah ke neraca sebagai aset), aset naik Rp500 M — tapi laba tahun-tahun berikut terbebani amortisasi. Inilah "meminjam laba dari masa depan".

✅ Checkpoint 4
Kenapa R&D 0,03% bukan red flag untuk TSPC, padahal ini "perusahaan farmasi"?

Karena segmen farmasi TSPC = manufaktur obat generik/OTC + distribusi, bukan riset molekul baru. Produknya (Bodrex, Komix, etc.) adalah brand mapan. R&D yang relevan = formulasi & line extension — murah. Red flag hanya jika emiten mengklaim pipeline inovatif tapi R&D-nya nol.

5

Persediaan: barang jadi +21%

📍 Di filing: Catatan 8, Persediaan.

📄 KutipanPersediaan neto 2.191.258.864.803 (2023: 1.865.035.784.855). Barang jadi 1.560.527.637.582 (2023: 1.286.724.747.269) · bahan baku 561.726.893.281. Penyisihan penurunan nilai 2.472.735.942 (2023: 313.174.896) — dengan penambahan penyisihan 2.159.561.046 selama 2024.
🧮 Hitungan FSA LabInventory days 2024 = 94,4 hari (2023: 80,9 hari) — naik 13,5 hari. Barang jadi +21,3% vs revenue +4,1%. Penyisihan naik 7,9×.

M14🧭 Interpretasi analis Inilah jebakan inventori farmasi yang hidup: obat & consumer goods punya umur simpan — barang jadi yang menumpuk 5× lebih cepat dari penjualan adalah kandidat write-down masa depan. Manajemen SUDAH menambah penyisihan (7,9×) — jujur, tapi kecil absolutnya (Rp2,5 M vs persediaan Rp2,19 T = 0,11%). Pertanyaan analis: apakah 0,11% cukup untuk stok 94 hari di bisnis dengan kedaluwarsa?

🧪 Mini-lab 5

Hitung inventory days 2024 & 2023 (persediaan ÷ HPP × 365). Berapa hari kenaikannya?

Jawaban

2024: 2.191.258.864.803 ÷ 8.477.055.405.163 × 365 = 94,4 hari. 2023: 1.865.035.784.855 ÷ 8.416.500.046.775 × 365 = 80,9 hari. Kenaikan 13,5 hari — modal kerja Rp326 M tambahan "terkunci" di gudang.

✅ Checkpoint 5
Tiga penjelasan yang konsisten dengan "barang jadi +21%, revenue +4%". Mana yang paling perlu diuji — dan dengan data apa?

(1) Stok antisipasi 2025 — uji: guidance/capex 2025. (2) Permintaan melambat — uji: penjualan kuartalan 2024 (tren?). (3) Channel stuffing ke distributor — uji: piutang (stop 6). Yang paling berbahaya = (3), dan pengujinya sudah tersedia di LK ini.

6

Piutang & pihak berelasi — jebakan #3 diperiksa

📍 Di filing: Ekshibit A (piutang usaha) + Catatan 7 (pihak berelasi).

📄 KutipanPiutang usaha pihak ketiga 1.428.455.899.314 (2023: 1.393.271.967.430) · pihak berelasi 74.533.546.932 (2023: 94.701.044.846). Penjualan ke pihak berelasi ≈ 2,18% dari penjualan neto (2023: 2,31%) — terutama ke PT Tempo Digital Nusantara 298.002.161.851 (e-commerce, entitas asosiasi).
🧮 Hitungan FSA LabDSO 2024 = 38,2 hari (2023: 38,8 hari) — stabil. Piutang berelasi = 5,0% dari total piutang usaha, dan TURUN Rp20,2 M YoY.

M16M22🧭 Interpretasi analis Jebakan #3 diperiksa — tidak berbunyi. Pola channel stuffing klasik = penjualan ke distributor afiliasi naik + piutangnya membengkak. Di sini kebalikannya terjadi: penjualan berelasi flat (2,18%), piutang berelasi turun. Di tengah barang jadi yang menumpuk (stop 5), piutang yang stabil = bukti bahwa penumpukan bukan stuffing ke afiliasi. Pelajaran: cek dan tidak menemukan = hasil — dan hasil negatif ini justru memperkuat interpretasi stop 5.

🧪 Mini-lab 6

Hitung: (a) DSO 2024; (b) porsi piutang berelasi dari total piutang usaha.

Jawaban

(a) 1.428.455.899.314 ÷ 13.654.570.829.747 × 365 = 38,2 hari. (b) 74.533.546.932 ÷ (1.428.455.899.314 + 74.533.546.932) = 4,96% — kecil dan menurun.

✅ Checkpoint 6
Catatan 7 juga mencatat PT Mumu Nusantara Agung (asosiasi) = "jasa iklan dan promosi". Apa pertanyaan analisnya?

Sebagian dari iklan Rp1,54 T (stop 3) mengalir ke agensi afiliasi. Pertanyaannya bukan "ada transaksi" (wajar & diungkapkan) melainkan kewajaran tarif: apakah fee agensi afiliasi setara harga pasar? Ini lensa forensik M22 — dan jawabannya tidak ada di LK (keterbatasan jujur).

7

Operasi lain: swing Rp283,8 miliar

📍 Di filing: Ekshibit B, baris "Penghasilan (beban) operasi lain, neto".

📄 KutipanPenghasilan (beban) operasi lain, neto 2024: +110.806.162.221 (2023: (173.006.237.663)).
🧮 Hitungan FSA LabAyunan = Rp283,8 miliar (110.806.162.221 − (−173.006.237.663)) = 38,9% dari kenaikan laba usaha Rp729,0 M. Dekomposisi kenaikan laba usaha: bauran segmen + efisiensi iklan (29,9%) + ayunan operasi lain (38,9%) + sisanya.

M9M10🧭 Interpretasi analis Baris "operasi lain" = tempat hal-hal non-rutin bersembunyi: selisih kurs, laba/rugi penjualan aset, dan pos sekali-jadi lainnya. Ayunan Rp284 M dalam setahun = volatil, bukan sesuatu yang bisa diasumsikan berulang untuk proyeksi. Analis memisahkan: laba usaha "inti" (dari operasi) vs "angin" (dari baris ini).

🧪 Mini-lab 7

Jumlahkan dekomposisi kenaikan laba usaha: (a) penghematan iklan Rp218,2 M + (b) ayunan operasi lain Rp283,8 M. Berapa % dari Rp729,0 M yang dijelaskan keduanya? Sisa berapa yang dijelaskan faktor lain (bauran segmen, dst.)?

Jawaban

(218,2 + 283,8) ÷ 729,0 = 68,8%. Sisa 31,2% (≈Rp227 M) dijelaskan bauran segmen yang membaik (farmasi +16,9% dengan margin 49%) dan efisiensi lain. Dua pertiga "keajaiban" = iklan + ayunan non-rutin.

✅ Checkpoint 7
Jika kamu memproyeksikan laba 2025, angka laba usaha mana yang kamu pakai sebagai basis — 1.808,9 M atau yang disesuaikan? Kenapa?

Yang disesuaikan (dinormalisasi): keluarkan ayunan operasi lain yang non-rutin (±Rp284 M) dan tanyakan keberlanjutan penghematan iklan. Basis "inti" ≈ Rp1,4–1,5 T — proyeksi dari angka headline = jebakan M9 (kualitas laba: recurring vs non-recurring).

8

Tempo Scan Industry: asosiasi → anak (jebakan #5)

📍 Di filing: Catatan 7 + Catatan 11 (investasi pada entitas asosiasi).

📄 KutipanPT Tempo Scan Industry — produsen produk farmasi — "Sejak Juni 2024 menjadi entitas anak Kelompok Usaha" (sebelumnya entitas asosiasi 20%).
🧭 Interpretasi analis Jebakan #5 menyala — tapi kecil. Sejak Juni 2024, pendapatan & aset Tempo Scan Industry dikonsolidasi penuh (sebelumnya hanya 20% laba via ekuitas). Artinya: sebagian dari pertumbuhan segmen farmasi +16,9% di 2024 adalah pertumbuhan yang "dibeli" lewat perubahan status konsolidasi, bukan murni organik. Besarnya tidak diungkapkan sebagai proforma — dan ketiadaan pengungkapan itu sendiri adalah temuan (jebakan #5: "kalau tidak diungkapkan, itu sendiri pertanyaan").

M20M22M35 Di mana analis melacaknya: Catatan 1d (daftar entitas anak), mutasi investasi di arus kas investasi, dan lonjakan KNP (kepentingan nonpengendali naik ke 461.053.762.162).

🧪 Mini-lab 8

Segmen farmasi tumbuh 16,9% (Rp684,7 M). Jika setengahnya berasal dari konsolidasi Tempo Scan Industry, berapa pertumbuhan organik farmasi? (Asumsi latihan — angka pastinya tidak diungkapkan.)

Jawaban

(4.746,8 − 342,4) ÷ 4.062,1 − 1 = +8,4% — masih tumbuh, tapi separuh dari headline. Pelajarannya: selalu tanyakan "berapa yang organik" setiap ada perubahan perimeter konsolidasi.

✅ Checkpoint 8
Kenapa perubahan "asosiasi → anak" menaikkan revenue konsolidasi padahal bisnisnya sama saja?

Metode ekuitas (asosiasi): hanya 20% laba neto masuk satu baris. Konsolidasi penuh (anak): 100% revenue, beban, dan aset masuk baris per baris. Bisnis tidak berubah — cara menghitungnya yang berubah. Inilah mengapa analis membaca Catatan 1d sebelum merayakan pertumbuhan.

9

Konsentrasi pemasok: Nutricia Rp3,7 triliun

📍 Di filing: Catatan 25, Beban Pokok Penjualan (paragraf terakhir).

📄 Kutipan"Jumlah pembelian selama satu (1) tahun yang melebihi 10% dari penjualan neto konsolidasian adalah dari PT Nutricia Indonesia Sejahtera, yaitu masing-masing senilai Rp3,7 triliun dan Rp4,0 triliun (2024 dan 2023)." Tidak terdapat penjualan kepada satu pelanggan yang melebihi 10% dari penjualan neto konsolidasian.
🧮 Hitungan FSA LabRp3,7 T = 27,1% dari penjualan neto (3.700.000.000.000 ÷ 13.654.570.829.747). Satu pemasok = lebih dari seperempat "biaya" perusahaan.

M8M28🧭 Interpretasi analis Cermin dari kasus SOCI (satu pelanggan 50,7%): di sini risikonya di sisi pemasok. TSPC mendistribusikan produk Nutricia (SGM dkk.) — bisnis distribusi 8% margin ini hidup dari kontrak prinsipal (Catatan 28a: perjanjian distribusi 1–5 tahun, umumnya dapat diperpanjang). Kalau kontrak tidak diperpanjang, segmen distribusi (Rp4,35 T revenue) berlubang. Analis kredit membaca ini sebagai risiko konsentrasi — bukan red flag akuntansi, tapi risiko bisnis yang nyata.

🧪 Mini-lab 9

Hitung porsi pembelian Nutricia terhadap penjualan neto. Bandingkan sifat risikonya dengan "satu pelanggan 50,7%" di SOCI.

Jawaban

27,1%. Beda sifat: SOCI = risiko pendapatan hilang (pelanggan pergi → revenue drop); TSPC = risiko margin & volume distribusi (prinsipal pergi → segmen Rp4,35 T menyusut, tapi pabrikan farmasi/konsumen tetap jalan). Konsentrasi pemasok < konsentrasi pelanggan dalam dampak — tapi tetap wajib dicatat.

✅ Checkpoint 9
Apakah konsentrasi pemasok 27% ini "red flag forensik"? Kenapa bukan?

Bukan. Ini diungkapkan transparan di catatan, transaksinya riil (barang dibeli & dijual kembali), dan tidak melibatkan pihak berelasi. Red flag forensik = pola yang disembunyikan atau tidak wajar. Ini risiko bisnis yang sah — tempatnya di lensa kredit/investasi, bukan forensik.

10

Neraca benteng & arus kas

📍 Di filing: Ekshibit A (posisi keuangan).

📄 KutipanKas dan setara kas 4.456.622.005.587 · total aset 12.489.189.257.954 · total liabilitas 3.338.362.695.157 · total ekuitas 9.150.826.562.797 · utang bank 746.880.205.304 (2023: 1.009.331.531.830) · aset lancar 8.789.500.465.740 · liabilitas jangka pendek 2.848.818.665.478.
🧮 Hitungan FSA LabD/E = 0,36× · current ratio = 3,09× · ROE (pemilik) = 16,7% · kas = 6× utang bank.

M5M23🧭 Interpretasi analis Neraca "benteng": kas Rp4,46 T menutupi seluruh utang bank 6 kali lipat, D/E 0,36×. Dari lensa kredit (M23/M33): ini debitur yang tidak butuh pinjaman — risiko gagal bayar minimal. Justru pertanyaannya berbalik: dengan kas sebesar ini, kenapa masih ada utang bank Rp747 M? Jawaban kandidat: fasilitas modal kerja musiman / relationship banking — dan analis mencatatnya sebagai pertanyaan, bukan jawaban.

🧪 Mini-lab 10

Hitung: (a) D/E; (b) current ratio. Apa verdict kredit 1 kalimat?

Jawaban

(a) 3.338.362.695.157 ÷ 9.150.826.562.797 = 0,36×. (b) 8.789.500.465.740 ÷ 2.848.818.665.478 = 3,09×. Verdict: "Struktur modal konservatif, likuiditas sangat kuat — risiko kredit rendah."

✅ Checkpoint 10
Kas Rp4,46 T menganggur = inefisiensi? Apa argumen yang membelanya?

Dua sisi: inefisiensi (ROE tertekan oleh kas ber-yield rendah) vs opsionalitas (peluru untuk akuisisi — Grup Tempo memang acquisitive — dan buffer kontrak distribusi). Analis tidak memvonis; ia mengukur: berapa ROE tanpa kas berlebih? Itu lensa investasi vs manajemen modal.

11

Pajak: ETR 20,0% — normal

📍 Di filing: Ekshibit B + Catatan 19 (pajak).

📄 KutipanLaba sebelum beban pajak 1.935.506.621.742 · beban pajak penghasilan neto (387.101.324.348).
🧮 Hitungan FSA LabETR = 20,0% (387.101.324.348 ÷ 1.935.506.621.742) — sedikit di bawah tarif badan 22%, tanpa anomali pajak final seperti SOCI.

M32🧭 Interpretasi analis Stop ini pendek karena memang tidak ada drama: ETR 20% ≈ tarif normal dengan sedikit perbedaan temporer. Pelajarannya: tidak setiap stop harus menemukan masalah. Analis yang baik mencatat "pajak: normal" dan lanjut — waktu analis adalah sumber daya; jebakan pajak (seperti ETR 10,4% di SOCI) hanya dikejar kalau angkanya aneh.

🧪 Mini-lab 11

Hitung ETR. Bandingkan dengan tarif PPh badan 22% — apakah selisihnya material?

Jawaban

20,0% — selisih 2 poin dari 22%, tidak material, tidak ada pajak final jumbo. Kesimpulan: tidak ada isu pajak. Lanjut.

✅ Checkpoint 11
Kapan ETR yang "normal" justru patut dicurigai?

Ketika komposisinya aneh: misal tarif normal tapi ada beban pajak tangguhan raksasa yang menutupinya, atau perusahaan dengan banyak insentif pajak tapi ETR-nya tetap 22% (insentifnya ke mana?). Selalu baca rekonsiliasi fiskal (Catatan 19), bukan cuma ETR headline.

12

Sintesis tiga lensa

📍 Di mana-mana di atas — sekarang dirangkai.

🧭 Interpretasi analisLensa investasi: "Margin expansion story" 2024 — tapi 69% kenaikan laba usaha berasal dari penghematan iklan + ayunan non-rutin. Pertanyaan investasi #1: apakah laba 2024 bisa diulang tanpa memotong iklan lagi? Yang struktural dan bagus: bauran segmen (farmasi +16,9%, margin 49%) dan neraca benteng.
🧭 Interpretasi analisLensa kredit: D/E 0,36×, current ratio 3,09×, kas 6× utang bank — risiko gagal bayar minimal. Satu-satunya catatan: konsentrasi pemasok Nutricia 27% (risiko bisnis, bukan akuntansi).
🧭 Interpretasi analisLensa forensik: Tidak ada jebakan yang berbunyi. R&D tidak dikapitalisasi · penjualan berelasi 2,18% dan piutang berelasi turun · tidak ada pelanggan >10% · auditor BDO opini wajar. Watchlist: barang jadi +21% (kedaluwarsa) dan konsolidasi Tempo Scan Industry (pertumbuhan non-organik tak terkuantifikasi).

M33M8M22 Tiga lensa, tiga vonis berbeda — itulah gunanya triple-lens: satu set angka, tiga pertanyaan berbeda.

🧪 Mini-lab 12 (final)

Tulis 3 kalimat: (1) satu hal yang struktural membaik di TSPC 2024; (2) satu hal yang perlu diverifikasi di 2025; (3) satu jebakan sektor yang tidak relevan di sini dan kenapa.

Contoh jawaban

(1) Bauran segmen: farmasi margin 49% tumbuh 16,9% sementara distribusi margin 8% menyusut — bauran laba membaik struktural. (2) Keberlanjutan: apakah revenue 2025 tumbuh tanpa menaikkan kembali budget iklan yang dipotong Rp218 M? (3) Kapitalisasi R&D: tidak relevan — R&D hanya 0,03% revenue dan seluruhnya di-expense; model bisnisnya bukan drug discovery.

✅ Checkpoint 12
Bandingkan dengan KLBF (Bedah Sendiri): apa SATU perbedaan struktural terbesar kedua emiten farmasi ini?

TSPC = 3 bisnis (2 pabrikan + 1 distributor raksasa); KLBF = farmasi murni yang terintegrasi vertikal. Distribusi pihak ketiga (Nutricia dkk.) tidak ada di KLBF. Akibatnya: metrik "distribusi" (perputaran, margin 8%) hanya relevan untuk TSPC — sektor yang sama, model bisnis berbeda, metrik berbeda. Inilah alasan track sektor ada. Lanjut ke Sintesis Sektor Healthcare →

Selesaikan case ini.

Centang mini-lab yang sudah dikerjakan, lalu tandai selesai. Progres tersimpan lokal di browser-mu (fsa_hc_tspc_*).

Keterbatasan

  1. Angka dikutip dari LK konsolidasian auditan TSPC FY2024 — bukan dari memegang kertas fisik. Jika menemukan selisih dengan filing aslinya, filing yang menang.
  2. Rincian "penghasilan (beban) operasi lain" tidak dibedah per komponen di halaman ini (ayunannya dihitung, komposisinya tidak) — keterbatasan jujur.
  3. Narasi manajemen (MD&A AR) tidak dipakai — halaman ini murni LK auditan. Klaim strategi 2025 tidak diverifikasi.
  4. Bukan rekomendasi investasi. Ini latihan membaca filing, bukan ajakan beli/jual TSPC.

← Track Healthcare · Sintesis Sektor → · Bandingkan dengan blind: Bedah Sendiri KLBF →